Berusaha merekam apa yang menggelayut dalam pikiran.

Dimulai pada suatu malam, lelah sudah sampai puncaknya, kepalaku terasa dicengkram, lalu aku terkapar. Malam damai pertama itu dipakai istirahat penuh setelah 24 jam berjibaku dengan IGD dan dramanya, ditambah lagi dilanjutkan dengan pelatihan dan rapat di rumah sakit sampai sore, memakan waktu istirahat. Buyar sudah rencana tarawih, aku terlelap begitu saja saat mendaratkan badan di kasur.

Tiba-tiba ada bayangan anak kecil itu, umurnya 7 tahun. Saat ditanya cita-citanya dia jawab dengan yakin dan lantang: dokter dan hafizhah. Masya Allah. Saat itu anak ini sedang cinta-cintanya dengan Al-Qur’an. Yang dia rasa, temannya hanyalah kitabullah tersebut, di saat dia kebingungan dengan pertemanan, bahkan cenderung dibully oleh teman-teman barunya. Bersamanya, ada sebuah kekuatan yang dia rasa. Saat itu juga, dia sering diperkenalkan dengan Palestina dan perjuangannya. Dari sekolahnya, majalah langganannya, film yang ditontonnya, aksi yang diikutinya… Dia si anak kecil punya pikiran, kasian orang yang terluka itu, aku ingin membantu mereka. Lalu tercetuslah menjadi dokter.

Aku terbangun.

Anak kecil yang pemikirannya sederhana itu tak asing. Bahkan aku tahu kelanjutan kisah si anak kecil. Sampai duduk di bangku SMP, dia masih tekun dengan cita-citanya. Walaupun dia akui dengan sangat sedih, al-Qur’an bukan lagi sahabat pertamanya. Dia sudah menemukan sahabat lain sejak ia tahu cara membawakan diri. Dia mulai sibuk dengan cinta monyetnya. Dia mulai tau cara bersenang-senang ala remaja tanggung.

Saat SMA dia makin menjadi-jadi. Dia makin tekun dengan cita-citanya sebagai dokter. Dia mulai punya tujuan lain, saat melihat neneknya makin memburuk karena penyakit stroke. Dia punya paham lain karena tergugah dengan ayat yang menyatakan barang siapa yang membunuh seorang manusia, maka membunuh seluruh manusia lainnya dan barang siapa yang memelihara seorang manusia maka memelihara seorang manusia lainnya. Dia makin kuat saat didukung orangtuanya, apalagi saat ibunya berkata profesi yang dia inginkan akan menjadi jalan surga dan mendekatkan Allah, sebagaimana yang pernah ibunya baca pada karya cendekiawan muslim. Makin tekun lagi dia. Cita-citanya untuk ke Palestina saat itu belum juga luntur.

Bagaimana cita-citanya yang satu lagi? Sayangnya, sempat kandas. Hanya jadi memori, kalau dia pernah menginginkan itu. Dia masih berusaha berinteraksi dengan sahabat lamanya, walau pastinya, setelah lama tidak bertemu dia merasa canggung dan malu-malu.

Saat lulus SMA adalah penentuan menuju jalan yang mendekatkan dengan cita-citanya itu..  Dia benar-benar bersungguh-sungguh. Dia akui itu saat-saat terdekat dengan Tuhan-Nya. Tangis pintaannya tulus, tak memaksa, tak berharap besar, hanya ingin yang terbaik. Sambil merayu dengan segala alasan yang pernah membuatnya kuat untuk mempertahankan cita-cita.

Lalu Allah izinkan dia sampai ke tahap sekarang. Cita-cita itu.

Dia si anak kecil yang telah bertumbuh menjadi aku.

Waktu aku bangun, aku menangis begitu saja. Kenapa si anak kecil begitu tulus pemikirannya? Kenapa saat dia dewasa begitu rumit pemikirannya? Selalu perhitungan dan tolak ukurnya duniawi? Aku selalu merasa kalau aku menjadi dokter yang baik, haruslah pasien berbuat baik kepadaku. Aku jadi sering sakit hati, puncaknya pada saat pasien dan keluarganya memberitakanku dan rumah sakit ke media cetak, dengan kronologi yang tidak benar. Aku selalu marah pada keluarga tersebut, aku selalu membahas keluarga tersebut sering sekali datang ke IGD dan dilayani dengan baik, bahkan saat aku tidak bertugas aku menyapa mereka. Hanya karena satu hal yang membuat miskomunikasi, mereka lupa semua itu. Apakah salah kalau aku mendahulukan pasien stroke daripada lipoma untuk diperiksa saat keduanya datang bersamaan? Hingga harus diberitakan tidak rasional dan imbang oleh pers. Sampai saat ini aku masih sedikit kecewa. Padahal memang begitulah risiko seorang dokter dan Allah membuat kesempatan bagiku untuk merasakannya, kuharap sekali saja.

Belum lagi (sesekali) saat pasien berbondong-bondong datang, yang aku lakukan biasanya berteriak dan mengomel. (Sewaktu-waktu) makin lesu saat pasien gawat. Seakan lupa pada pahamku yang dulu. Dan cara menghibur efektifku sesekali sudah mulai kacau, karena tidak dipungkiri yang zahir lebih mudah daripada yang tidak. Celetukan becanda dari teman, “wiiih, enak dong pasien rame, jasa makin banyak,” sesekali lebih membuai daripada pahamku yang dulu, juga daripada pahala yang menumpuk. Padahal niat itu yang menentukan.

Ada apa dengan dirimu yang dewasa anak kecil? Beberapa bulan belakangan ini dia tidak seperti yang kita idamkan dulu.

Aku makin menjadi menangis saat itu. Teringat lagi wejangan seorang spesialis di sini saat aku meminta surat rekomendasi sekolah di bidang yang sama dengan beliau. “Saya dukung, saya tandatangani, pasti kamu sekolah spesialis karena ada kepentingan buat ummat, bukan karena duitnya. ”

Di waktu yang sama, saat aku membuka handphone, muncul sebuah berita yang membuatku makin tertampar. Seorang petugas medis di Palestina ditembak oleh tentara Israel. Seakan-akan mempertanyakan ke mana impian anak kecilmu itu? Bahkan kamu tidak sepeduli itu lagi tentang Palestina. Kamu tidak berusaha mencari perkembangan informasinya. Tidak sekeras itu memboikot produk yang membunuh mereka. Tidak rajin berdoa tentang saudaramu di belahan dunia lain yang sedang susah lebih dari kamu. Kamu bahkan tidak ada keinginan lagi kan untuk ke sana? Lihat, arah keinginan sekolahmu berubah. Jauh sekali dari alasan yang kamu kemukakan pada Allah dulu. Yah, bagaimana kamu mau ke sana, kalau mental dan kapasitasmu rendahan begini?

Seakan-akan anak kecil yang lewat saat tertidur itu seperti Allah datangkan untuk berkata: mana dirimu yang dulu? Kamu punya banyak mau sekarang, tapi apa kamu layak mendapatkannya? Dulu kamu demikian berusaha dengan niat baik yang kuat di dalamnya. Sekarang niat dan hidupmu itu kosong, bagaimana kamu akan bertahan di kehidupan yang kejam dan tidak semuanya sesuai dengan yang kamu mau? Bagaimana tidak perasaanmu terus sesak seperti terhimpit belakangan ini?

Aku saat itu menjawab dalam hati dalam tunduk dan tangan menengadah: ampuni aku, tolong bantu aku. Aku ingin selalu dekat. Tolong tarik aku saat aku mulai menjauh, bagaimanapun caranya. Aku akan berusaha, walau terombang-ambing naik dan turun.

Aku berjanji berusaha tekun untuk cita yang satunya, karena dia sahabat pertamaku dan selamanya.

Aamiin.

Advertisements

Aku sejujurnya takut gelap. Sangat takut meski tidak sampai fobia. Rasanya mencekam, apalagi saat sendirian di kamar menjelang tidur. Tanpa aba-aba, pikiranku selalu terbayang-bayang tentang azab kubur, suasana alam barzah, dan segala hal yang sama tentang itu saat gelap. Kalau sudah begitu, aku menggigil dan menghiba-hiba dalam hati supaya mendapatkan yang terbaik bila saatku tiba.

Kini, aku suka, suka sekali berlama-lama dengan gelap. Karena sekarang aku menyadari,  dengan keberadaannya mau tak mau aku ditegaskan tentang kenyataan bahwa hidupku sementara dan kekhawatiran dan kesedihan yang orientasinya lebih banyak duniawi itu sirna seketika.

Dalam gelap, pikiranku yang sempit tercerahkan. Ada akhirat menunggu, dan itulah orientasiku.

Tahu visum?

Sederhananya, visum adalah surat dari ahli (dokter) yang menerangkan hasil pemeriksaan terhadap seseorang pada saat itu juga, dibuat atas keluarnya permintaan visum yang diantar langsung dari orang kepolisian dengan syarat mencapai pangkat tertentu. Biasanya seseorang ini adalah korban dari perbuatan tidak menyenangkan orang lain dan orang lain ini akan diseret ke ranah hukum demi mendapatkan keadilan yang layak. Visum ini penting, karena jadi salah satu bukti yang kuat di mata hukum. Jadi tidak main-main, kami harus belajar berminggu-minggu untuk membuat visum, tepatnya saat rotasi di bagian Forensik.

Untuk saya pribadi, si dokter yang baru dua tahun, visum yang saya buat berkutat di penganiayaan (pemukulan, pengeroyokan, pembacokan) atau kecelakaan lalu lintas. Padahal visum itu banyak sekali, ada kejiwaan. Ada juga pemerkosaan atau pelecehan seksual.

Dan simsalabim, di tengah hingar bingar dunia per IGD an yang tidak pernah mengenal kata santai, penuh drama, datanglah pegawai rumah sakit membawa ibu usia tigapuluhan dan anaknya yang usia tujuh delapan tahunan. Mereka datang untuk pemeriksaan dan permintaan visum pelecehan seksual. Saya saat itu masih sibuk dengan pasien lansia tidak sadar dengan gula darah sangat tinggi dan sesak nafas.

Sebenarnya adik kecil ini termasuk pasien kebidanan, dan menurut standar prosedur operasional pemeriksaan dilakukan oleh dokter spesialis obgyn. Tapi, karena dokter spesialis kosong sejak 2 bulan yang lalu, kewenangan dipindahkan ke dokter umum di ruangan. Kebetulan dokter yang berjaga adalah babang tamvan suami tercinta, jadi sayang sekali.. pemeriksaan dialihkan ke saya yang perempuan.

Saat tiba di sini kami memang dibriefing banyak hal, terutama visum pelecehan seksual atau pemerkosaan pada anak. Kebanyakan anak korban pelecehan seksual dan pemerkosaan biasanya trauma dengan laki-laki. Mereka bisa histeris dengan melihat wajah laki-laki, apalagi kalau organ vital nya diperiksa oleh laki-laki. Lebih baik cari aman saja, bila ada dokter perempuan ya sudah dokter perempuan saja yang periksa.

Jadi sambil periksa, saya ajak adik kecil itu bicara. Tak lupa sambil mengorek keterangan banyak ke ibunya yang pada akhirnya tidak terlalu berguna karena ibunya panik.

Saya (S) : Ibu, ini bagaimana kejadiannya?

Ibu pasien (I) : Aduh, ini dok, dia itu keluyuran keluar rumah. Makanya kamu itu ga usah main di luar rumah, naaaak.

Aduh ibunya panik nih. Ngga jelas bicaranya.

S: Kakak, jadi ini ceritanya bagaimana? (Saya mengalihkan pertanyaan ke pegawai rumah sakit yang mengantar)

Pegawai (P) :  Jadi dok, anak ini tadi diganggu sama orang yang bantu-bantu di rumah orang tuanya. Sering sekali dok orang itu ganggu anak-anak kecil. Adek tadi om kasih buat apakah? Bilang sudah ke ibu dokter.

S: Adek, di sini sakit? Kencing sakitkah tarada?

Saya masih memeriksa bagian luar dari kemaluan si kecil, sebelum ke pemeriksaan dalam.

A (Adek) : Sakiiiit. Tadi om itu bilang kalau mau buka celana dan dipegang-pegang dikasih lima ribu.

I: Ampun (Ibunya nampak kesal sekali mendengar anaknya mau dikasih lima ribu)

S: Adek, sekarang adek harus ingat kata ibu dokter. Kalau ada yang pegang daerah sini dan sini (saya otomatis ke daerah dada, perut, sampai daerah paha) ndak boleh! Mau adek dikasih uangkah, apakah ndak boleh!  Yang boleh pegang cuma bu dokter, yang mau periksa adek. Ibu adek juga boleh. Tapi laki-laki ndak boleh, itu ndak sopan . Kalau ada yang begitu, kasih tahu ibu adek.

Adik kecil itu mengangguk. Sebenarnya nada bicara saya terlalu galak untuk ukuran anak kecil. Tapi saya sengaja supaya ibunya mendengar. Apalagi orang timur sebagaimana kata orang timur yang lainnya harus lebih dikerasi, susah kalau berlembut-lembut.

Setelah memeriksa, saya langsung memberi tahu hasil temuan saya. Ibu si adik kecil itu nampak lega sekali setelah tahu tidak ada luka atau robekan di area intim. Sisanya saya serahkan ke perawat untuk mengorek keterangan lain dan edukasi yang saya titipkan, berhubung pasien tidak sadar yang tadi makin memburuk.

Saya lagi capek jadi mungkin galaknya karena bete juga ya. Sedikit keki dengan ibu adik ini. Kalau istilah yang suami saya pakai, ibu ini sih ga solutif, melarang seorang anak untuk main dan dikurung di rumah. Malah menyalahkan anak sendiri, padahal anak-anak itu pikirannya masih sederhana, harus ada peran orang tua yang mengarahkan. Pendidikan seksual pada anak mungkin belum jadi perhatian untuk ibu yang ini, apalagi sangat nampak ibu ini berpendidikan rendah. Beda sekali dengan ibu-ibu muda kota zaman now yang sudah punya strategi pendidikan yang jelas, termasuk pendidikan seksual tahap awal. Yang mana yang boleh disentuh, yang mana yang tidak boleh disentuh. Saya sendiri jadi ingat keimutan Kirana saat diajarkan ibunya bagian mana yang tidak boleh disentuh orang lain. Bila ada yang menyentuh, segera berteriak, “Don’t Touch! ”

Daaan seharusnya ibu ini kasih warning sekeras mungkin pada anak, kalau memang orang yang sering bantu-bantu di rumah terkenal ‘berbahaya’. Kalau perlu diberhentikan, cari bantuan orang lain saja.

Di luar itu, saya senang, orang tua adik kecil ini sigap melaporkan kejahatan seksual ini. Saya sampai sempat kewalahan dikejar polisi yang menagih visum pagi-pagi sekali karena katanya mau naik banding. Semoga pelaku diberi ganjaran yang setimpal dan tidak mengulanginya lagi, berhubung adik kecil ini bukan korban yang pertama.

Yah kisah ini menambah pelajaran saja. Saya jadi tahu isi visum pemerkosaan dan pelecehan seksual sekaligus jadi tamparan, karna di sisi lain saya sebenarnya ketar ketir, edukasi tentang boleh sentuh atau tidak boleh sentuh itu sudah benar apa belum. Sudah dimengerti apa belum. Tamparan lagi karena saya juga masih minim ilmu dan saya yang Allah kasih waktu banyak untuk menyerap ilmu malah mengabaikannya hehe. Padahal menjadi orang tua lagi-lagi bukan semata-mata melahirkan dan membesarkan, ada peran lain yang lebih besar dari itu. Untuk mencapai peran besar itu butuh effort yang besar. Belajar, belajar, dan belajar serta tidak melupakan peranan dokter yang mencerdaskan masyarakat sekitarnya, termasuk mencerdaskan ibu lainnya. Di sinilah diagnosis dan penanganan seorang dokter yang holistik diperlukan. Nampaknya prinsip-prinsip kedokteran keluarga dan seven stars doctor mungkin harus dikaji kembali.

Terkadang saya berharap, diberi stamina dan kekuatan tanpa batas. Agar selalu semangat saat bertemu pasien, bercuap-cuap tentang edukasi yang mereka perlukan, bahkan dengan bumbu small talk di luar kedokteran. Idealisme itu sering luntur saat sedang lelah-lelahnya. Astaghfirullah.

Ya, semoga Allah selalu menguatkan. Selalu percaya, kalau kita berbuat baik untuk orang lain, sebenarnya kita berbuat baik untuk diri kita sendiri. Dengan demikian, semoga hubungan ke sesama (tidak hanya pasien ya) tidak cuma hubungan transaksional.

Hanya Allah yang paling mengerti. Hanya Allah tempat berharap. Hanya Allah yang paling perhatian. Hanya Allah yang berkuasa, Maha Segalanya.

Kalau begitu mengapa terasa begitu susah? Susah sekali untuk tidak mengharapkan orang lain mengerti. Bagaimana mau mengerti, kalau merasakan hal yang sama saja tidak pernah sama sekali. Belum lagi sifat bawah sadar manusia umumnya yang cenderung mementingkan diriny masing-masing.

Kalau begitu mengapa terasa begitu susah? Susah sekali untuk tidak mendengar pandangan orang lain, yang perhatiannya pun hanya secuil dari perhatiannya Allah. Yang perhatiannya pada umumnya lebih ke arah kesalahan kita dan sering muncul kalau ada maunya.

Kalau begitu mengapa susah? Susah sekali untuk tidak mengandalkan orang lain. Padahal orang lain juga lemah tak berdaya, sekali disentil saja oleh Allah tak akan berkutik sama sekali.

Ya Allah, entah berapa kali kami tersungkur tersadar, kemudian kami luput kembali. Terimakasih selalu menerima kami, hamba-hamba yang menzhalimi dirinya sendiri.

Mungkin dan bisa jadi, alasan mengapa beberapa prodi program pendidikan spesialis menjadikan PTT sebagai nilai tambah bukan semata-mata agar mendapat pengalaman klinis. Pengalaman klinis bisa didapatkan di mana saja selagi kamu sebagai dokter bertatap muka dengan pasien, guru abadi dan terbaik. Buat apa berpayah-payah jauh dari peradaban, orang tua dan karib kerabat demi pengalaman klinis tok.

Mungkin dan bisa jadi, ada tujuan yang lebih besar. Melatih mental. Melatih kesabaran. Sabar di sini bukan hanya karena tabiat dan pasien dan keluarga pasien. Bukan juga karena tabiat rekan kerja atau pelayanan rumah sakit tidak memadai. Sabar di sini adalah sabar dalam segala aspek. Sabar saat kabar gaji tak terdengar gaungnya. Sabar saat rindu sekali dengan orang-orang terkasih. Sabar saat sarana pra sarana terbatas. Sabar saat segala hal tidak sesuai dengan keinginan dan yang seharusnya. Semakin pandai kita mengasah kesabaran, semakin mudah kita beradaptasi ketika melanjutkan sekolah spesialisasi yang tak ayal lagi identik dengan sibuk, lelah, ngantuk dan hal yang senada. Kita pernah gigih berada di tempat yang sulit, meski kadar kelelahan berbeda. Ke depannya mudah-mudahan kegigihannya terjaga saat berada dalam cengkraman dunia pendidikan, yang syukur-syukurnya pasti lingkungan sekitarnya memiliki fasilitas lebih mumpuni, berbeda saat PTT.

Mungkin dan bisa jadi, ada tujuan yang lebih besar lagi. Membangun empati kita menjadi lebih luas seluas-luasnya. Agar kita terbuka matanya bahwa banyak orang-orang yang lebih membutuhkan di daerah tempat kita PTT. Agar kita paham, sejatinya peran kita besar sekali di masyarakat. Bukan semata-mata pengobatan, tapi aspek lain. Agar kita bersemangat terus belajar dan mengabdi, mengenyahkan orientasi uang semata. Agar kita kembali napak tilas dan mengingat kembali, apa tujuan kita saat pertama kali menginjakkan kaki di fakultas kedokteran.

Mungkin dan bisa jadi. Jangan pernah putus berprasangka baik. Percayalah ada secercah harapan bahkan saat sudah berada di ujung jurang keputus-asaan. Suatu saat kamu mengerti tentang nikmatnya setelah bebas dari terpaan kesulitan. Tinggal kita tanamkan prinsip, saat nikmat sudah ada di genggaman, ada tugas lain yang menunggu. Jangan menyombongkan diri dan tetap sadar, bahwa ada banyak orang lain di luar sana yang membutuhkan bantuan nyata dan tidak butuh omong kosong tentang apa yang kamu punya.

Jangan lupa dan terus berdoa.

Kalau didesak tentang hal yang berbau kebaikan sejatinya aku tak mempermasalahkan. Sudah terlampau sering aku didesak dan setelah terpaksa melakukan, toh tak ada yang berakhir dengan sia-sia. Malahan bahagia.

Lalu bagaimana jika ini sedikit menyimpang dari prinsip yang kamu pegang? Sedikit membuatmu harus melakukan fenomena yang kamu benci..

Mungkin Allah ingin menjadikan aku sebagai pionir. Atau lebih tepatnya sang perintis, yang menyelami segala arus pahit getir hidup, kemudian berbagi strategi tentang bagaimana caranya bertahan hidup. Tentang bagaimana itu, aku sebenarnya tak seahli yang kalian bayangkan, hanya saja akulah salah satu orang-orang awal yang terceburkan dibanding kalian. Bahkan bila mau objektif, kalian lah yang punya bekal dan bakat yang mumpuni. Kalian pasti bisa, karena aku yang tidak bermodal apa-apa saja bisa. Itu saja.