Mungkin dan bisa jadi, alasan mengapa beberapa prodi program pendidikan spesialis menjadikan PTT sebagai nilai tambah bukan semata-mata agar mendapat pengalaman klinis. Pengalaman klinis bisa didapatkan di mana saja selagi kamu sebagai dokter bertatap muka dengan pasien, guru abadi dan terbaik. Buat apa berpayah-payah jauh dari peradaban, orang tua dan karib kerabat demi pengalaman klinis tok.

Mungkin dan bisa jadi, ada tujuan yang lebih besar. Melatih mental. Melatih kesabaran. Sabar di sini bukan hanya karena tabiat dan pasien dan keluarga pasien. Bukan juga karena tabiat rekan kerja atau pelayanan rumah sakit tidak memadai. Sabar di sini adalah sabar dalam segala aspek. Sabar saat kabar gaji tak terdengar gaungnya. Sabar saat rindu sekali dengan orang-orang terkasih. Sabar saat sarana pra sarana terbatas. Sabar saat segala hal tidak sesuai dengan keinginan dan yang seharusnya. Semakin pandai kita mengasah kesabaran, semakin mudah kita beradaptasi ketika melanjutkan sekolah spesialisasi yang tak ayal lagi identik dengan sibuk, lelah, ngantuk dan hal yang senada. Kita pernah gigih berada di tempat yang sulit, meski kadar kelelahan berbeda. Ke depannya mudah-mudahan kegigihannya terjaga saat berada dalam cengkraman dunia pendidikan, yang syukur-syukurnya pasti lingkungan sekitarnya memiliki fasilitas lebih mumpuni, berbeda saat PTT.

Mungkin dan bisa jadi, ada tujuan yang lebih besar lagi. Membangun empati kita menjadi lebih luas seluas-luasnya. Agar kita terbuka matanya bahwa banyak orang-orang yang lebih membutuhkan di daerah tempat kita PTT. Agar kita paham, sejatinya peran kita besar sekali di masyarakat. Bukan semata-mata pengobatan, tapi aspek lain. Agar kita bersemangat terus belajar dan mengabdi, mengenyahkan orientasi uang semata. Agar kita kembali napak tilas dan mengingat kembali, apa tujuan kita saat pertama kali menginjakkan kaki di fakultas kedokteran.

Mungkin dan bisa jadi. Jangan pernah putus berprasangka baik. Percayalah ada secercah harapan bahkan saat sudah berada di ujung jurang keputus-asaan. Suatu saat kamu mengerti tentang nikmatnya setelah bebas dari terpaan kesulitan. Tinggal kita tanamkan prinsip, saat nikmat sudah ada di genggaman, ada tugas lain yang menunggu. Jangan menyombongkan diri dan tetap sadar, bahwa ada banyak orang lain di luar sana yang membutuhkan bantuan nyata dan tidak butuh omong kosong tentang apa yang kamu punya.

Jangan lupa dan terus berdoa.

Advertisements

Kalau didesak tentang hal yang berbau kebaikan sejatinya aku tak mempermasalahkan. Sudah terlampau sering aku didesak dan setelah terpaksa melakukan, toh tak ada yang berakhir dengan sia-sia. Malahan bahagia.

Lalu bagaimana jika ini sedikit menyimpang dari prinsip yang kamu pegang? Sedikit membuatmu harus melakukan fenomena yang kamu benci..

Mungkin Allah ingin menjadikan aku sebagai pionir. Atau lebih tepatnya sang perintis, yang menyelami segala arus pahit getir hidup, kemudian berbagi strategi tentang bagaimana caranya bertahan hidup. Tentang bagaimana itu, aku sebenarnya tak seahli yang kalian bayangkan, hanya saja akulah salah satu orang-orang awal yang terceburkan dibanding kalian. Bahkan bila mau objektif, kalian lah yang punya bekal dan bakat yang mumpuni. Kalian pasti bisa, karena aku yang tidak bermodal apa-apa saja bisa. Itu saja.

Di zaman modern ini, masih aja ada ibu-ibu yang sombong karena bisa melahirkan normal dan memandang ibu yang melahirkan c-section itu payah dan manja. Terlalu banyak.

Isu makin ramai karena pernyataan seorang ustadz bahwa melahirkan c-section itu pengaruh bisikan syaitan. Makin menjadi nih para ibu-ibu nyinyir nan sombong itu.

Jujur, saya pernah berpikir hal yang sama. Dulu saya pernah galau karena diultimatum bahwa kemungkinan lahir normal sangat riskan di usia kehamilan 28 minggu. Pernah berpikir apakah nasib saya memang begini, ga bisa merasakan jadi ibu yang sempurna, merasakan pahala sakit yang sempurna, karena tidak Allah takdirkan untuk melahirkan normal.

Ternyata ngga toh. Sakitnya sama bahkan cenderung membekas. Bahkan Allah kasih saya kesempatan mencicipi bagaimana dahsyatnya saat muncul sensasi mules yang dikenal dengan istilah gelombang cinta itu. Sampai bukaan delapan. Tapi apakah saya tega memaksa lahir normal bila kondisi anak saya malah justru makin gawat?

Memang beberapa dokter kandungan kenalan ketika saya ceritakan pengalaman anak pertama saya amat menyayangkan keputusan c-section yang dokter kandungan saat itu ambil, mengingat kemungkinan hidup dan kualitas hidup anak saya sangat jelek. Tapi, kemungkinan anak saya lahir mati bisa saja lebih besar bila dipaksa melahirkan normal. Dia mungkin tidak akan sehebat itu, bertahan dalam empat hari. Hal itu yang saya tekankan di pikiran saya, karena terkadang syaitan sangat hebat meniupkan rasa sesal dan angan-angan yang isinya penuh kata andai dan andai.

Konsekuensinya, saya harus sabar hingga dua tahun. Sudah saya putuskan sejak istikharah yang dimulai setelah beberapa bulan melahirkan. Tekad saya bulat untuk melahirkan normal pasca operasi (VBAC), walau banyak sekali yang bilang daripada saya berlarut-larut sedih dalam kerinduan, lebih baik segera punya momongan lagi meski harus operasi. Saya tak yakin akan saran demikian karena kerinduan takkan semudah itu menghilang hanya karena satu Yahya diganti dengan Yahya yang selanjutnya.

Jadi apa saya payah?

Waktu saya di ruang bersalin, ada seorang perempuan usia duapuluh tahun yang kesakitan karena induksi tidak maju. Saya sampai tidak bisa tidur, karena jeritan sakitnya. Berkali-kali dia minta operasi, meski dokter kandungan membujuknya lembut dan meyakinkan dia bisa melahirkan normal asalkan bersabar. Bahkan dokter itu bilang jangan khawatir, karena dokter akan membantunya sampai pembukaan lengkap (kasihan sekali memang, sudah nyeri seharian pembukaannya baru pembukaan dua). Tetap saja karena tidak tahan lagi, perempuan ini tetap memaksa operasi, padahal sudah berapa kali diberitahu konsekuensinya dan akhirnya dibawa ke ruang operasi.

Apakah perempuan itu payah?

Ya ngga lah. Ngga ada yang namanya payah. Selama 9 bulan, kita-kita ini merawat apa yang dikaruniakan oleh Allah di rahim kita. Itu saja sudah habis-habisan. Saat tanggal persalinan tiba, kita itu tengah berjuang untuk menyambutnya ke dunia dan saat lahir kita itu sudah punya rencana masing-masing bagaimana membesarkannya agar memiliki keseimbangan jasadiyah-ruhiyah-aqliyah yang baik setelah mereka matang nanti. Jelas dong ga ada yang salah dengan persalinan macam apa pun. Apalagi kebanyakan operasi itu dilakukan karena indikasi medis demi kesehatan ibu dan anaknya. Ada lho, bayi dengan berat besar dipaksa lahir normal, justru berakhir dengan tragis. Bayi tersebut lahir mati akibat persalinan macet, bahu terjepit dan tidak bisa keluar lewat jalan lahir. Apakah harus demikian demi mendapatkan gelar ibu yang hebat karena memilih persalinan normal?

Oiya, tambahan lagi, ga ada yang salah dengan cara didik anak masing-masing, selagi tahu apa landasannya dan referensinya, jadi gausah memaksakan harus begini begitu, apalagi pada anak orang lain. Yang salah itu kalau orang tua, sang ibu membuang atau menelantarkan menelantarkan anaknya. Ini nih, yang harus didoakan (sekalian diruqyah deh) supaya lekas sadar dan menyesal. Kadang ada saja makhluk yang tidak bersyukur macam itu, di saat ada orang lain yang sangat merindukan kehadiran buah hati.

Tolong ya ibu-ibu nyinyir dan sombong karena lahiran normal, daripada nyampah ga jelas di media sosial dan menyulut amarah para ibu yang lain, lebih baik ibu tinggalkan sosial media dan fokus membesarkan anak-anaknya ibu. Ibu itu sudah punya gelar ibu sempurna dan hebat dan sangat disayangkan bila gelar itu tidak dipertahankan dengan mengabaikan anak-anak dan sibuk menebar hal yang sia-sia seperti menyebar kebencian di media sosial. Untuk pahala dan kemuliaan biar Allah saja yang nilai bagaimana, kita ini ga bisa ikut campur di ranah tersebut ya bu. Yang cuma bisa kita lakuin hanyalah berusaha sampai ke puncak pahala dan kemuliaan yang tertinggi. Tolong sudahi saja bicara hal yang demikian, karena kita benar-benar ga tahu kondisi orang yang sesungguhnya. Kita juga ga merasakannya, jadi hentikan judgement yang belum tentu benar seperti itu.

Pencapaian minggu pertama di Halmahera Tengah, provinsi Maluku Utara.

Betapa di sini kami diajarkan untuk mensyukuri nikmat yang awalnya kami abaikan. Nikmat berkendaraan, nikmat adanya listrik, nikmat akses fasilitas hiburan, nikmat internet lancar,  yang dirangkum menjadi nikmatnya hidup di Pulau Jawa.

Sudah lama sekali aku tidak berkutat dengan kompor sumbu dan nyatanya dipertemukan kembali dengan kompor sumbu bahkan diuji kesabarannya dengan sebuah kompor sumbu. Ya begitulah, keberadaan kompor gas LPG nyaris tidak ada. Memasak dengan kompor sumbu itu melelahkan, durasi menumis sayur saja bisa memanjang dari biasanya saat menggunakan kompor gas. Belum lagi saat memasak nasi dengan dandang, subhanallah, mantap repotnya. Rutinitas itu harus aku lewati setiap hari demi penghematan, karena biaya hidup yang serba mahal.

Ketiadaan transportasi juga cukup merepotkan. Kami bertiga pernah sampai jalan kaki selama sejam lebih untuk mencapai toko kelontong dan warung makan. Angkot tidak tersedia, diganti dengan kendaraan bersama yang disebut otto (biasanya avanza/xenia/innova) dan itu cukup mahal tarif harganya. Kami (aku, suami, dan satu teman yang lain) lebih suka naik otto bila harus menyebrang ke pulau Ternate, hitungan biayanya seratus duapuluh ribu per tiga orang. Mau tak mau setiap berapa waktu kami harus ke Ternate, mengingat mall besar dan harga murah meriah ada di Ternate.

Internet bisa dibilang 4G, tapi 4G yang abal-abal. Baru kali ini sinyal yang kudapat tersendat-sendat. Setiap kali orang mengirim pesan terutama Whatsapp di hari ini, selalu saja baru bisa sampai ke hari esok bahkan hari lusanya kemudian. Sedikit menyusahkan, karena terkadang bila aku ingin mencari banyal hal dengan prof Google jadinya lama sekali. Padahal memasak kadang butuh inovasi dan menemukan kreasi baru biasanya cukup dengan Google. Konsultasi ke spesialis pun seringnya menggunakan Whatsapp. Update ilmu kedokteran, tatalaksana penyakit dan jurnal terbaru juga dibantu oleh Google, mengingat jauhnya jarak Pulau Jawa dan Maluku yang membuat kami tak mungkin membawa banyak buku sebagai sumber referensi ilmu.

Listrik sering nyala-padam-nyala-padam di jam dan siklus tertentu. Baru kemarin, aku merasakan tidak enaknya tidak ada listrik dari pagi hingga menjelang malam. Biasanya hanya sekian menit, tapi bisa terus-terusan. Masak jadi terhambat, terutama untuk bumbu-bumbu yang harus aku haluskan terlebih dahulu dengan blender (yang kubawa dari Bogor, karena tahu begitu besar jasa si blender bagi dapur rumah tangga haha). Beruntung keberadaan rumah dinas sangat menghiburku di sela-sela masa adaptasiku.

Tapi setidaknya, semua itu lebih baik dari pengalaman salah satu kenalanku di sini. Dia dua tahun yang lalu menginjakkan kaki di Halmahera Selatan tanpa keberadaan listrik. Setiap harinya hanya lilin yang menemani kegelapan malam. Jalan offroad, disertai lumpur, harus berjalan kaki satu setengah jam dengan sepatu boot. Tidur beralas tikar. Lauk yang ada hanyalah sayur mayur. Akses jaringan telepon dan internet tidak ada, mengontak keluarga harus turun gunung setiap akhir pekan.

Hidup itu memang semakin matang semakin banyak tantangan. Dulu Pameungpeuk tidaklah seberapa dan yang tidak seberapa itu pun orang enggan untuk ke sana selama setahun. Sekarang tantanganku kini makin ke jenjang yang lebih tinggi. Dan itu masih belum seberapa dibandingkan teman baruku yang kuceritakan tadi. Namanya juga di atas langit masih ada langit. Yang penting sabar, sabar dan sabar. Aku merasa, seakan-akan Allah selalu berpesan dan menekankan hal itu tak pernah berhenti entah kenapa. Mungkin Allah tahu bahwa ambang batas kesabaranku sangatlah rendah.

IMG2017081310591215028498027431502849763787IMG-20170813-WA0003

Nikmat mana lagi yang kamu dustakan? Itulah ayat yang mewakili fase hidupku selanjutnya. Bertemu dengan saudara -saudara baru di pulau yang belum pernah sama sekali disinggahi adalah bak oase di gurun padang pasir. Melihat lukisan alam yang Allah cipta adalah suatu kenikmatan tersendiri di sela perjuangan yang sulit tapi tidak seberapa dibanding para pendahulu, dokter-dokter pengabdi di Tanah Maluku. Telinga ini juga beradaptasi dengan cepat saat mendengar dialek khas dari penduduk setempat.

Ini adalah Pameungpeuk versi timur, dengan pesona keindahan yang tiada duanya dan eksotisme yang lebih kentara. Kuharap tidak ada lagi kisah kelam yang sama, meski aku tahu sebaik apa pun aku berencana, Allah-lah yang berkuasa dan berkehendak. Dengan kehendak-Nya pula, aku kini menginjakkan kaki di tempat yang tak pernah terpikirkan olehku sebelum-sebelumnya.

 

 

 

Nak, melihat keajaiban yang Allah tunjukkan satu per satu pada orang yang sebenarnya tak dekat dengan mamamu ini, kadang ada sesal dan iri yang menyeruak seketika dari hati mama yang sedang berusaha untuk tabah. Betapa diagnosis seorang hamba Allah yang dipanggil dokter tetap saja terbantahkan dan terpatahkan bila Allah berkehendak. Lalu mamamu berpikir, mengapa keajaiban itu juga tak berlaku pada dirimu?

Tapi empat hari yang kau lalui itu sebenarnya keajaiban. Tampan rupawannya dirimu yang tak pernah mama duga adalah sebuah keajaiban. Tangis yang mama bilang tangisan ga nyantai itu pun juga keajaiban. Apa kata tante dan om dokter itu terbantahkan satu per satu.

Cukup sampai di situ keajaibannya. Itu saja sudah terlalu banyak dan besar. Tapi nak, dengan kepergianmu yang masih dalam keadaan suci, kau selamanya takkan pernah mengerti bahwa manusia itu suka mengeluh dan tak pandai bersyukur. Baik mereka sadari atau pun tidak.

Nak, setidaknya orang-orang yang mama hanya tahu dari media sosial dan tak pernah saling tatap muka itu secara tidak langsung menjadi guru yang baik. Mereka menunjukkan apa itu definisi keimanan dan kesabaran. Mereka menguatkan mama untuk mulai membangun asa sekeping demi sekeping dan menata hati.