Aku sejujurnya takut gelap. Sangat takut meski tidak sampai fobia. Rasanya mencekam, apalagi saat sendirian di kamar menjelang tidur. Tanpa aba-aba, pikiranku selalu terbayang-bayang tentang azab kubur, suasana alam barzah, dan segala hal yang sama tentang itu saat gelap. Kalau sudah begitu, aku menggigil dan menghiba-hiba dalam hati supaya mendapatkan yang terbaik bila saatku tiba.

Kini, aku suka, suka sekali berlama-lama dengan gelap. Karena sekarang aku menyadari,  dengan keberadaannya mau tak mau aku ditegaskan tentang kenyataan bahwa hidupku sementara dan kekhawatiran dan kesedihan yang orientasinya lebih banyak duniawi itu sirna seketika.

Dalam gelap, pikiranku yang sempit tercerahkan. Ada akhirat menunggu, dan itulah orientasiku.

Advertisements

Tahu visum?

Sederhananya, visum adalah surat dari ahli (dokter) yang menerangkan hasil pemeriksaan terhadap seseorang pada saat itu juga, dibuat atas keluarnya permintaan visum yang diantar langsung dari orang kepolisian dengan syarat mencapai pangkat tertentu. Biasanya seseorang ini adalah korban dari perbuatan tidak menyenangkan orang lain dan orang lain ini akan diseret ke ranah hukum demi mendapatkan keadilan yang layak. Visum ini penting, karena jadi salah satu bukti yang kuat di mata hukum. Jadi tidak main-main, kami harus belajar berminggu-minggu untuk membuat visum, tepatnya saat rotasi di bagian Forensik.

Untuk saya pribadi, si dokter yang baru dua tahun, visum yang saya buat berkutat di penganiayaan (pemukulan, pengeroyokan, pembacokan) atau kecelakaan lalu lintas. Padahal visum itu banyak sekali, ada kejiwaan. Ada juga pemerkosaan atau pelecehan seksual.

Dan simsalabim, di tengah hingar bingar dunia per IGD an yang tidak pernah mengenal kata santai, penuh drama, datanglah pegawai rumah sakit membawa ibu usia tigapuluhan dan anaknya yang usia tujuh delapan tahunan. Mereka datang untuk pemeriksaan dan permintaan visum pelecehan seksual. Saya saat itu masih sibuk dengan pasien lansia tidak sadar dengan gula darah sangat tinggi dan sesak nafas.

Sebenarnya adik kecil ini termasuk pasien kebidanan, dan menurut standar prosedur operasional pemeriksaan dilakukan oleh dokter spesialis obgyn. Tapi, karena dokter spesialis kosong sejak 2 bulan yang lalu, kewenangan dipindahkan ke dokter umum di ruangan. Kebetulan dokter yang berjaga adalah babang tamvan suami tercinta, jadi sayang sekali.. pemeriksaan dialihkan ke saya yang perempuan.

Saat tiba di sini kami memang dibriefing banyak hal, terutama visum pelecehan seksual atau pemerkosaan pada anak. Kebanyakan anak korban pelecehan seksual dan pemerkosaan biasanya trauma dengan laki-laki. Mereka bisa histeris dengan melihat wajah laki-laki, apalagi kalau organ vital nya diperiksa oleh laki-laki. Lebih baik cari aman saja, bila ada dokter perempuan ya sudah dokter perempuan saja yang periksa.

Jadi sambil periksa, saya ajak adik kecil itu bicara. Tak lupa sambil mengorek keterangan banyak ke ibunya yang pada akhirnya tidak terlalu berguna karena ibunya panik.

Saya (S) : Ibu, ini bagaimana kejadiannya?

Ibu pasien (I) : Aduh, ini dok, dia itu keluyuran keluar rumah. Makanya kamu itu ga usah main di luar rumah, naaaak.

Aduh ibunya panik nih. Ngga jelas bicaranya.

S: Kakak, jadi ini ceritanya bagaimana? (Saya mengalihkan pertanyaan ke pegawai rumah sakit yang mengantar)

Pegawai (P) :  Jadi dok, anak ini tadi diganggu sama orang yang bantu-bantu di rumah orang tuanya. Sering sekali dok orang itu ganggu anak-anak kecil. Adek tadi om kasih buat apakah? Bilang sudah ke ibu dokter.

S: Adek, di sini sakit? Kencing sakitkah tarada?

Saya masih memeriksa bagian luar dari kemaluan si kecil, sebelum ke pemeriksaan dalam.

A (Adek) : Sakiiiit. Tadi om itu bilang kalau mau buka celana dan dipegang-pegang dikasih lima ribu.

I: Ampun (Ibunya nampak kesal sekali mendengar anaknya mau dikasih lima ribu)

S: Adek, sekarang adek harus ingat kata ibu dokter. Kalau ada yang pegang daerah sini dan sini (saya otomatis ke daerah dada, perut, sampai daerah paha) ndak boleh! Mau adek dikasih uangkah, apakah ndak boleh!  Yang boleh pegang cuma bu dokter, yang mau periksa adek. Ibu adek juga boleh. Tapi laki-laki ndak boleh, itu ndak sopan . Kalau ada yang begitu, kasih tahu ibu adek.

Adik kecil itu mengangguk. Sebenarnya nada bicara saya terlalu galak untuk ukuran anak kecil. Tapi saya sengaja supaya ibunya mendengar. Apalagi orang timur sebagaimana kata orang timur yang lainnya harus lebih dikerasi, susah kalau berlembut-lembut.

Setelah memeriksa, saya langsung memberi tahu hasil temuan saya. Ibu si adik kecil itu nampak lega sekali setelah tahu tidak ada luka atau robekan di area intim. Sisanya saya serahkan ke perawat untuk mengorek keterangan lain dan edukasi yang saya titipkan, berhubung pasien tidak sadar yang tadi makin memburuk.

Saya lagi capek jadi mungkin galaknya karena bete juga ya. Sedikit keki dengan ibu adik ini. Kalau istilah yang suami saya pakai, ibu ini sih ga solutif, melarang seorang anak untuk main dan dikurung di rumah. Malah menyalahkan anak sendiri, padahal anak-anak itu pikirannya masih sederhana, harus ada peran orang tua yang mengarahkan. Pendidikan seksual pada anak mungkin belum jadi perhatian untuk ibu yang ini, apalagi sangat nampak ibu ini berpendidikan rendah. Beda sekali dengan ibu-ibu muda kota zaman now yang sudah punya strategi pendidikan yang jelas, termasuk pendidikan seksual tahap awal. Yang mana yang boleh disentuh, yang mana yang tidak boleh disentuh. Saya sendiri jadi ingat keimutan Kirana saat diajarkan ibunya bagian mana yang tidak boleh disentuh orang lain. Bila ada yang menyentuh, segera berteriak, “Don’t Touch! ”

Daaan seharusnya ibu ini kasih warning sekeras mungkin pada anak, kalau memang orang yang sering bantu-bantu di rumah terkenal ‘berbahaya’. Kalau perlu diberhentikan, cari bantuan orang lain saja.

Di luar itu, saya senang, orang tua adik kecil ini sigap melaporkan kejahatan seksual ini. Saya sampai sempat kewalahan dikejar polisi yang menagih visum pagi-pagi sekali karena katanya mau naik banding. Semoga pelaku diberi ganjaran yang setimpal dan tidak mengulanginya lagi, berhubung adik kecil ini bukan korban yang pertama.

Yah kisah ini menambah pelajaran saja. Saya jadi tahu isi visum pemerkosaan dan pelecehan seksual sekaligus jadi tamparan, karna di sisi lain saya sebenarnya ketar ketir, edukasi tentang boleh sentuh atau tidak boleh sentuh itu sudah benar apa belum. Sudah dimengerti apa belum. Tamparan lagi karena saya juga masih minim ilmu dan saya yang Allah kasih waktu banyak untuk menyerap ilmu malah mengabaikannya hehe. Padahal menjadi orang tua lagi-lagi bukan semata-mata melahirkan dan membesarkan, ada peran lain yang lebih besar dari itu. Untuk mencapai peran besar itu butuh effort yang besar. Belajar, belajar, dan belajar serta tidak melupakan peranan dokter yang mencerdaskan masyarakat sekitarnya, termasuk mencerdaskan ibu lainnya. Di sinilah diagnosis dan penanganan seorang dokter yang holistik diperlukan. Nampaknya prinsip-prinsip kedokteran keluarga dan seven stars doctor mungkin harus dikaji kembali.

Terkadang saya berharap, diberi stamina dan kekuatan tanpa batas. Agar selalu semangat saat bertemu pasien, bercuap-cuap tentang edukasi yang mereka perlukan, bahkan dengan bumbu small talk di luar kedokteran. Idealisme itu sering luntur saat sedang lelah-lelahnya. Astaghfirullah.

Ya, semoga Allah selalu menguatkan. Selalu percaya, kalau kita berbuat baik untuk orang lain, sebenarnya kita berbuat baik untuk diri kita sendiri. Dengan demikian, semoga hubungan ke sesama (tidak hanya pasien ya) tidak cuma hubungan transaksional.

Hanya Allah yang paling mengerti. Hanya Allah tempat berharap. Hanya Allah yang paling perhatian. Hanya Allah yang berkuasa, Maha Segalanya.

Kalau begitu mengapa terasa begitu susah? Susah sekali untuk tidak mengharapkan orang lain mengerti. Bagaimana mau mengerti, kalau merasakan hal yang sama saja tidak pernah sama sekali. Belum lagi sifat bawah sadar manusia umumnya yang cenderung mementingkan diriny masing-masing.

Kalau begitu mengapa terasa begitu susah? Susah sekali untuk tidak mendengar pandangan orang lain, yang perhatiannya pun hanya secuil dari perhatiannya Allah. Yang perhatiannya pada umumnya lebih ke arah kesalahan kita dan sering muncul kalau ada maunya.

Kalau begitu mengapa susah? Susah sekali untuk tidak mengandalkan orang lain. Padahal orang lain juga lemah tak berdaya, sekali disentil saja oleh Allah tak akan berkutik sama sekali.

Ya Allah, entah berapa kali kami tersungkur tersadar, kemudian kami luput kembali. Terimakasih selalu menerima kami, hamba-hamba yang menzhalimi dirinya sendiri.

Mungkin dan bisa jadi, alasan mengapa beberapa prodi program pendidikan spesialis menjadikan PTT sebagai nilai tambah bukan semata-mata agar mendapat pengalaman klinis. Pengalaman klinis bisa didapatkan di mana saja selagi kamu sebagai dokter bertatap muka dengan pasien, guru abadi dan terbaik. Buat apa berpayah-payah jauh dari peradaban, orang tua dan karib kerabat demi pengalaman klinis tok.

Mungkin dan bisa jadi, ada tujuan yang lebih besar. Melatih mental. Melatih kesabaran. Sabar di sini bukan hanya karena tabiat dan pasien dan keluarga pasien. Bukan juga karena tabiat rekan kerja atau pelayanan rumah sakit tidak memadai. Sabar di sini adalah sabar dalam segala aspek. Sabar saat kabar gaji tak terdengar gaungnya. Sabar saat rindu sekali dengan orang-orang terkasih. Sabar saat sarana pra sarana terbatas. Sabar saat segala hal tidak sesuai dengan keinginan dan yang seharusnya. Semakin pandai kita mengasah kesabaran, semakin mudah kita beradaptasi ketika melanjutkan sekolah spesialisasi yang tak ayal lagi identik dengan sibuk, lelah, ngantuk dan hal yang senada. Kita pernah gigih berada di tempat yang sulit, meski kadar kelelahan berbeda. Ke depannya mudah-mudahan kegigihannya terjaga saat berada dalam cengkraman dunia pendidikan, yang syukur-syukurnya pasti lingkungan sekitarnya memiliki fasilitas lebih mumpuni, berbeda saat PTT.

Mungkin dan bisa jadi, ada tujuan yang lebih besar lagi. Membangun empati kita menjadi lebih luas seluas-luasnya. Agar kita terbuka matanya bahwa banyak orang-orang yang lebih membutuhkan di daerah tempat kita PTT. Agar kita paham, sejatinya peran kita besar sekali di masyarakat. Bukan semata-mata pengobatan, tapi aspek lain. Agar kita bersemangat terus belajar dan mengabdi, mengenyahkan orientasi uang semata. Agar kita kembali napak tilas dan mengingat kembali, apa tujuan kita saat pertama kali menginjakkan kaki di fakultas kedokteran.

Mungkin dan bisa jadi. Jangan pernah putus berprasangka baik. Percayalah ada secercah harapan bahkan saat sudah berada di ujung jurang keputus-asaan. Suatu saat kamu mengerti tentang nikmatnya setelah bebas dari terpaan kesulitan. Tinggal kita tanamkan prinsip, saat nikmat sudah ada di genggaman, ada tugas lain yang menunggu. Jangan menyombongkan diri dan tetap sadar, bahwa ada banyak orang lain di luar sana yang membutuhkan bantuan nyata dan tidak butuh omong kosong tentang apa yang kamu punya.

Jangan lupa dan terus berdoa.

Kalau didesak tentang hal yang berbau kebaikan sejatinya aku tak mempermasalahkan. Sudah terlampau sering aku didesak dan setelah terpaksa melakukan, toh tak ada yang berakhir dengan sia-sia. Malahan bahagia.

Lalu bagaimana jika ini sedikit menyimpang dari prinsip yang kamu pegang? Sedikit membuatmu harus melakukan fenomena yang kamu benci..

Mungkin Allah ingin menjadikan aku sebagai pionir. Atau lebih tepatnya sang perintis, yang menyelami segala arus pahit getir hidup, kemudian berbagi strategi tentang bagaimana caranya bertahan hidup. Tentang bagaimana itu, aku sebenarnya tak seahli yang kalian bayangkan, hanya saja akulah salah satu orang-orang awal yang terceburkan dibanding kalian. Bahkan bila mau objektif, kalian lah yang punya bekal dan bakat yang mumpuni. Kalian pasti bisa, karena aku yang tidak bermodal apa-apa saja bisa. Itu saja.

Di zaman modern ini, masih aja ada ibu-ibu yang sombong karena bisa melahirkan normal dan memandang ibu yang melahirkan c-section itu payah dan manja. Terlalu banyak.

Isu makin ramai karena pernyataan seorang ustadz bahwa melahirkan c-section itu pengaruh bisikan syaitan. Makin menjadi nih para ibu-ibu nyinyir nan sombong itu.

Jujur, saya pernah berpikir hal yang sama. Dulu saya pernah galau karena diultimatum bahwa kemungkinan lahir normal sangat riskan di usia kehamilan 28 minggu. Pernah berpikir apakah nasib saya memang begini, ga bisa merasakan jadi ibu yang sempurna, merasakan pahala sakit yang sempurna, karena tidak Allah takdirkan untuk melahirkan normal.

Ternyata ngga toh. Sakitnya sama bahkan cenderung membekas. Bahkan Allah kasih saya kesempatan mencicipi bagaimana dahsyatnya saat muncul sensasi mules yang dikenal dengan istilah gelombang cinta itu. Sampai bukaan delapan. Tapi apakah saya tega memaksa lahir normal bila kondisi anak saya malah justru makin gawat?

Memang beberapa dokter kandungan kenalan ketika saya ceritakan pengalaman anak pertama saya amat menyayangkan keputusan c-section yang dokter kandungan saat itu ambil, mengingat kemungkinan hidup dan kualitas hidup anak saya sangat jelek. Tapi, kemungkinan anak saya lahir mati bisa saja lebih besar bila dipaksa melahirkan normal. Dia mungkin tidak akan sehebat itu, bertahan dalam empat hari. Hal itu yang saya tekankan di pikiran saya, karena terkadang syaitan sangat hebat meniupkan rasa sesal dan angan-angan yang isinya penuh kata andai dan andai.

Konsekuensinya, saya harus sabar hingga dua tahun. Sudah saya putuskan sejak istikharah yang dimulai setelah beberapa bulan melahirkan. Tekad saya bulat untuk melahirkan normal pasca operasi (VBAC), walau banyak sekali yang bilang daripada saya berlarut-larut sedih dalam kerinduan, lebih baik segera punya momongan lagi meski harus operasi. Saya tak yakin akan saran demikian karena kerinduan takkan semudah itu menghilang hanya karena satu Yahya diganti dengan Yahya yang selanjutnya.

Jadi apa saya payah?

Waktu saya di ruang bersalin, ada seorang perempuan usia duapuluh tahun yang kesakitan karena induksi tidak maju. Saya sampai tidak bisa tidur, karena jeritan sakitnya. Berkali-kali dia minta operasi, meski dokter kandungan membujuknya lembut dan meyakinkan dia bisa melahirkan normal asalkan bersabar. Bahkan dokter itu bilang jangan khawatir, karena dokter akan membantunya sampai pembukaan lengkap (kasihan sekali memang, sudah nyeri seharian pembukaannya baru pembukaan dua). Tetap saja karena tidak tahan lagi, perempuan ini tetap memaksa operasi, padahal sudah berapa kali diberitahu konsekuensinya dan akhirnya dibawa ke ruang operasi.

Apakah perempuan itu payah?

Ya ngga lah. Ngga ada yang namanya payah. Selama 9 bulan, kita-kita ini merawat apa yang dikaruniakan oleh Allah di rahim kita. Itu saja sudah habis-habisan. Saat tanggal persalinan tiba, kita itu tengah berjuang untuk menyambutnya ke dunia dan saat lahir kita itu sudah punya rencana masing-masing bagaimana membesarkannya agar memiliki keseimbangan jasadiyah-ruhiyah-aqliyah yang baik setelah mereka matang nanti. Jelas dong ga ada yang salah dengan persalinan macam apa pun. Apalagi kebanyakan operasi itu dilakukan karena indikasi medis demi kesehatan ibu dan anaknya. Ada lho, bayi dengan berat besar dipaksa lahir normal, justru berakhir dengan tragis. Bayi tersebut lahir mati akibat persalinan macet, bahu terjepit dan tidak bisa keluar lewat jalan lahir. Apakah harus demikian demi mendapatkan gelar ibu yang hebat karena memilih persalinan normal?

Oiya, tambahan lagi, ga ada yang salah dengan cara didik anak masing-masing, selagi tahu apa landasannya dan referensinya, jadi gausah memaksakan harus begini begitu, apalagi pada anak orang lain. Yang salah itu kalau orang tua, sang ibu membuang atau menelantarkan menelantarkan anaknya. Ini nih, yang harus didoakan (sekalian diruqyah deh) supaya lekas sadar dan menyesal. Kadang ada saja makhluk yang tidak bersyukur macam itu, di saat ada orang lain yang sangat merindukan kehadiran buah hati.

Tolong ya ibu-ibu nyinyir dan sombong karena lahiran normal, daripada nyampah ga jelas di media sosial dan menyulut amarah para ibu yang lain, lebih baik ibu tinggalkan sosial media dan fokus membesarkan anak-anaknya ibu. Ibu itu sudah punya gelar ibu sempurna dan hebat dan sangat disayangkan bila gelar itu tidak dipertahankan dengan mengabaikan anak-anak dan sibuk menebar hal yang sia-sia seperti menyebar kebencian di media sosial. Untuk pahala dan kemuliaan biar Allah saja yang nilai bagaimana, kita ini ga bisa ikut campur di ranah tersebut ya bu. Yang cuma bisa kita lakuin hanyalah berusaha sampai ke puncak pahala dan kemuliaan yang tertinggi. Tolong sudahi saja bicara hal yang demikian, karena kita benar-benar ga tahu kondisi orang yang sesungguhnya. Kita juga ga merasakannya, jadi hentikan judgement yang belum tentu benar seperti itu.