Tahap yang sering kita lupakan saat menghafal Al-Qur’an adalah tidak berhenti untuk menghafal. Sesulit apa pun itu, ga sampai-sampai khatam hafal 30 juz, yang terpenting adalah jangan sampai lelah dan berhenti. – Ustadz Taufiq, Ketua Umum Rutaba Indonesia

 

 

Dia tak tahu apa keputusan ini tepat. Tapi yang jelas kakinya telah berpijak di sini. Dikelilingi mereka yang nampak antusias. Para bapak dan ibu. Tentunya tak lupa menggandeng beberapa krucil-krucil yang setia membuntuti. Perutnya sakit, meski ia tahu, ada beberapa wajah familiar yang tak menyadari kehadirannya dan nampaknya dia mulai mempertimbangkan harus menyapa atau tidak. Dia pun tahu, mereka sedang dalam tujuan yang sama, mempersiapkan yang terbaik untuk yang tidak tahu kapan datangnya.

Dia benar-benar bunuh diri. Hatinya belum sepenuhnya siap. Lihat saja. Penglihatannya mulai mengabur. Nafasnya mulai tak bisa diatur. Debaran jantungnya makin menguat dan meningkat. Kepalanya pening.

Tapi, kalau tidak sekarang kapan lagi?

Ya sudahlah, anggap saja ini psikoterapi mandiri. Bertahap. Kali ini dosis yang dikeluarkan makin besar.

Yang kuat ya diri, dia hanya berbisik menyemangati hatinya supaya tidak runtuh seketika.

Seraya menyibukkan diri, mengetik dan terus mengetik agar gelisah segera enyah.

IMG_20170428_154744_880.jpg

Super duper rindu maksimal dengan dunia koas, sama rindunya dengan rindu dunia internsip. Eh ralat, lebih rindu koas sebenarnya, karena menurutku frekuensi cara pikir dan kerja aku dan teman seperjuangan koas pada umumnya sama (gatau kenapa sangat terasa berbeda dengan saat internsip)

Tapi yang aku tahu, satu hal yang paling membuat rindu itu adalah kebersamaan. Mau itu koas, mau itu internsip. Setelah semuanya usai seperti kini, kami menjalani hidup sendiri-sendiri. Rasanya tak biasa. Praktek sendiri. Jadi dokter sendiri. Istirahat tanpa rumpi kejadian di bangsal, poli, dan igd. Walaupun bisa ngobrol banyak dengan partner perawat, akang teteh admin, akang teteh farmasist, pak satpam, dan semua kesatuan yang ada pada klinik sensasinya bedaaaa sekali. Bukan memilah-milih, rasanya beda saja, tidak dapat direkayasa.

Maka dari itu, mau menyangkal bagaimana pun, harus kuakui bahwa pelatihan macam ACLS dan ATLS yang baru saja kuikuti sangat me-recharge. Menemukan kembali sensasi itu, walau tak sepenuhnya sempurna. Tak sempurna, karena duniaku dan mereka tak lagi sama.

Rindu canda dan gelak tawa itu.. Rindu riuh diskusi itu.. Rindu saat belajar bersama. Berdebat bersama (terutama saat UKMPPD).

Tapi aku maklumi saja fase hidup yang seperti ini, toh pada akhirnya kita juga sendiri. Lebih sendiri lagi saat di alam kubur 😢

*Ngomong-ngomong, foto yang kudapat hasil re-grann dari ig teman cantikku @ameliamanuel. Bingung sih foto-foto koas banyak yang hilang. Jadi saat lagi kangen-kangennya harus lihat dari foto orang lain hiks.

Dan ngomong-ngomong di ig Amel ada foto pra sumdok yang ngga banget. Gemuk macam Yasmin yang sekarang, sampai dikomentari yang ujung kayak lagi hamil. Bzzzz.

Akhirnya aku mengerti statement anak-anak waktu takziah Yahya, “Lu abis hamil ga ada bedanya sama pas nikah, Min.” Emang gendut dari sananya toh. 😌

Dan akhirnya mengerti komentar semua orang pas internsip, Yasmin lagi hamil perutnya ga keliatan kayak lagi hamil. Wong ga bisa dibedain 😥

Baru tersadarkannya sekarang haha.

Wops, sekian curhatnya*

Lagu tersebut tengah dinyanyikan orang-orang di sebelah kosan persis di saat aku menuliskan ini. Rada fals, tapi masih pas. Diriku dengan sejenak baper karena ngeh ditinggal jaga 2×24 jam. Belum lagi liriknya puitis bikin hati nyes nyes gimana gitu.

Huft. Lagu ini selalu identik dengan dia, babang alay yang gatau kapan tobatnya :”

Roda kehidupan itu berputar, kawan.
Dulu kau iri hati, bagaimana dengan kini?
Tidak, kau bungkam.
Jadi kumohon, jangan risau.
Jangan pula gusar.
Jangan berkata hidupku, hidup orang lain dan hidup semua orang di dunia ini lebih indah dan gemerlap dari dirimu!
Kau tak tahu bagaimana ke depannya Dia menakdirkan kami akan seperti apa.
Kau juga tak kuasa memaksa Dia kau harus seperti apa.
Jadi santai saja.
Jadilah orang yang baik dan tetap nikmati hidupmu ini.
Nikmati kebahagiaanmu yang kini.
Aku juga akan bungkam seraya tak peduli.
Meski bagiku saat ini kau atau semuanya nampak lebih beruntung dari segi manusiawi dan duniawi.

*Itu cuma bisikan setan. Lebih baik telingaku menulikan diri. Begitupun dirimu. Pikirkan lagi, buat apa kita begitu. Bila kita tidak bersyukur, yang ada malah seperti seorang hamba yang belagu*

Isi hati ini dibuka dengan latar belakang berondongan pertanyaan yang sama sampai bosan.

“Pasti sakit banget ya min luka post operasinya?”

Ya gapapa. Anggap aja penebus dosa sampai akhir hayat. Ngobrol dengan siapa pun yang punya riwayat persalinan dengan cara operasi juga memang katanya rasanya seperti itu kok. Sakitnya awet bertahun-tahun. Yang berbeda memang kekuatan sakitnya, atau istilah kami yang di kedokteran yang berbeda adalah VAS-nya. Yang tidak nyaman dengan nyerinya bisa jadi trauma dan malas hamil lagi, seperti kata beberapa kenalan dokter dan dokter spesialis yang baru-baru ini kutemui. Yah, walaupun pikiran isengku mengatakan trauma atau malas itu suatu saat jadi omongan yang sifatnya angin lalu saja sih hihi.

Mau lahiran normal atau ngga, kenangannya pasti sama. Yang dirasa sama. Terutama rasa menyesal dan makin sayang dengan ibu masing-masing. Seiring dengan berjalannya waktu, sembari mengawasi perkembangan anak yang makin pesat, kita makin paham masa-masa sulit yang orangtua kita hadapi. Kita makin menyesal karena pernah berani melawan orang tua padahal mereka sudah bersusahpayah membesarkan kita. Aku saja merasa begitu adanya, apalagi yang memang masih bersama kesayangannya masing-masing kan?

Selain itu, aku pribadi makin mengerti dengan orangtua yang begitu panik membawa anaknya ke rumah sakit di jam-jam genting. Padahal saat diperiksa mungkin baik-baik saja, tidak nampak penyakit yang tidak wajar ataupun berat. Bila menuruti ego, aku sebagai dokter pasti jengkel, namun karena makin paham rasanya, yang kulakukan hanyalah menjelaskan untuk menenangkan. Aku maklum. Itulah bukti cinta kasih para orangtua. Mereka sayang.

Kalau sayang, apa pun akan mereka lakukan. Apalagi untuk mendukung buah hatinya menghadapi kehidupan baru. Mules-mules kontraksi juga ditahan. Operasi juga dibela-belain. Begitupun dalam aspek kehidupan lain. Apa pun konsekuensinya. Sakit pun tidak berarti. Yang penting kesayangan bahagia.

Jadi berbahagialah, supaya mereka bahagia. Redam emosimu terhadap mereka, buang aura negatifmu dan hadapi dengan pikiran jernih. Jangan buat mereka khawatir dan bersedih. Do the best, mumpung mereka masih ada di sini, supaya kita tidak termasuk orang yang merugi seperti apa yang dikatakan Rasulullah.

*Detik-detik menuju kepulangan ke Bogor

IMG_20170424_193602.jpg

S: Alhamdulillah, bisa liat Boski seneng lagi. Tuh kan, kalau mau bersabar, insya Allah dapet kan.

Y: Iya, tapi harus sedih dulu karena gagal pre order. Harus tiga kali bolak balik Gramed dulu baru berhasil dapet. Kan kesel.

S: Makanya bo (panggilan kesayangan ceunah: Kebo), yang bisa kita lakuin sekarang  dalam hidup itu usaha sama berpikir solutif. Jangan cuma ngomel dan ngeluh aja. Ga nyelesein masalah. Jangan lupa doanya. Allah kan tahu yang terbaik buat kita.

Y: Termasuk tentang Yamon juga?

S: Iya, kalo Boski sabar, pasti ketemu Yamon lagi. Sekarang kita usaha aja sampai dikasih di saat yang tepat.

Y: Aku kan nyari buku ini juga buat salah satu persiapan untuk Yamon yang lebih baik..

***

Sampai sekarang, aku tidak pernah ragu kalau Allah beri yang terbaik, termasuk suami yang baik. Yang bela-belain antar istrinya ke Gramedia saat ngidam buku (bahkan pas hamil ga pernah ngidam) di saat teler berat pasca pelatihan ATLS. Yang sering berkedok alay menyebalkan, padahal sebenarnya bijak dan penuh kata mutiara. Yang banyak mengajarkan tentang kehidupan, terutama yang hits untuk saat ini; Tazkiyatun Nafs alias Pensucian Jiwa. Setahun tiga bulan bersama, makin nampak jelas sisi-sisi baik yang tidak pernah kuketahui secara utuh saat sebelum menikah dulu. Seorang Saifan Abdurrohman dari dulu memang terkenal dengan kebaikannya dan dapat diandalkan. Cerita dari mulut ke mulut tentang kebaikan tak wajarnya pada orang lain seringkali menggaung di telinga. Sampai kini, rasanya tidak percaya orang sebaik itu bisa bersanding dengan orang yang tidak sebaik itu macam aku ini. Hiks.

Senangnya buku ibuk sudah di tangan. Saatnya membaca. Bersiap-siap sampai kapan pun adalah hal yang baik. Apa pun memang harus dipersiapkan kan? Bahkan kematian.

Suatu saat nanti bila Yamon atau Cimon datang, mereka akan bangga punya papa keren. Aku harap, mereka sekeren papanya. Aku juga ingin mereka bangga dengan mamanya dan mengambil apa pun yang keren dari mamanya (yang mamanya sendiri tidak tahu apa itu haha).

Hm.. Manusia memang cuma bisa berharap, berusaha, bertawakal dan berdoa.