Hai lisan. Jadilah penyelamatku di akhirat nanti, setidaknya dengan cara stop mengoceh dan mengeluh yang akan membawaku terjerumus ke kemurkaan Allah yang besar.

 

Anak Kecil 1 : Aku hebat dong, aku tadi disuntik ga sakit. Aku kan kuat.

Anak Kecil 2 : Ih, kamu kan tadi nangis waktu disuntik.

Anak Kecil 3 : Iya, kamu ga boleh bohong, kan kita berdua juga liat.

Aduh, ini anak-anak bikin saya cekikikan di ruang praktek, padahal masih ada pasien yang selanjutnya yang lagi dihadapi loh. Jadi ceritanya, anak kecil 1 tadi jatuh dari ayunan dan luka robeknya persis ada di kelopak. Memang tidak menghabiskan waktu yang lama, karena hanya membutuhkan satu jahitan. Tapi berontaknya itu deh, ya Allah, pusing saya. Dua temannya, si anak kecil 2 dan 3 dibawa karena si pengantar adalah orangtua kedua anak tadi. Mereka betul-betul melongo, datar tanpa terlihat ngeri sekali pun melihat temannya ‘disiksa’ di ruang tindakan.

Eh, sekarang si dedek alias anak kecil 1 udah bisa sombong bilang kuat. Tadi aja nangis dan marah tiap jarum mendekat. Dasar dedek gemes, jadi pengen uyel-uyel.

Ngomong-ngomong, saya sudah cukup sering mendapati anak-anak dengan luka yang robek di bagian kepala dan kelopak mata. Semua penyebabnya pasti sama, jatuh pada saat bermain. Jatuh dari tangga, jatuh dari sepeda, jatuh dari ayunan.. Memang ya, usia tiga tahun ke atas itu anak kecil sedang lincah-lincahnya, terutama anak laki-laki. Adik pertama saya dulu juga sempat jatuh dari tangga, bersyukur sekali ga terjadi apa-apa, sehat dan ga dibawa ke dokter. Adik kedua, sempat kulitnya melepuh kena air panas sewaktu kecil.

Sejauh mana ya kita harus membatasi gerakan lincah adek-adek ini? Menurut pengakuan orang tua, mereka meleng sedikit saja sudah langsung terjadi kecelakaan yang tak bisa dicegah. Saya yang belum jadi orang tua permanen saja ketar-ketir, ya Allah, bagaimana ini nanti kalau punya anak kecil.

Lalu, saya jadi ingat apa kata ibu saya, yang ditekankan lagi sejak saya kehilangan Yahya. Punya anak itu susah, merawatnya dari bayi saja sudah lelah. Semakin anak itu dewasa, semakin bertambah tingkatan susah dan lelah kita. Apalagi kalau mulai pintar membantah, melawan dan membentak.

Ada satu hal yang menarik sejak saya mulai mengupdate isi blog saya, yaitu kenyataan tentang adanya satu blog yang selalu sering mengunjungi halaman blog saya. Saya tidak tahu, apakah itu kerjaan si pemilik blog atau stalker dari si pemilik blog. Yang jelas dari stats wordpress, saya tahu pengunjung blog saya selalu berasal dari situs blog yang sama.

Well, well, apabila spekulasi saya benar, sesungguhnya saya tidak nyaman. Rasanya seperti dimata-matai dan ditertawai dari jauh. Tak apa bila setelah membaca ini membuatmu menghaturkan doa terbaik buat saya. Asal tahu saja, saya paling tidak suka dengan orang yang memata-matai hanya karena keingintahuan tak jelas, membelaskasihani, bahkan menertawakan penderitaan orang lain.

Tidak ada yang namanya kebetulan. Semua sudah Allah rencanakan. Allah jugalah yang merencanakan kapan saja saya ke toko buku dan menggerakkan hati saya untuk menentukan apa saja buku yang saya akan beli.

Setelah Yahya pergi, kami punya rutinitas baru. Ke toko buku dan jalan-jalan ke tempat wisata yang murah (biasanya museum, karena saya paling suka dengan museum). Karena bagaimana pun, sedikit hiburan macam begitu mampu membunuh rasa sedih di dalam hati. Apalagi saya sering membaca blog para ibu yang kehilangan buah hati, mereka selalu memberikan tips untuk menjadi pasutri yang rukun, dengan cara tidak saling menyalahkan dan sering mengagendakan acara berduaan.

Saya merasa dipermainkan oleh buku-buku yang saya beli. Saya punya kebiasaan membeli satu buku non fiksi dan satu buku fiksi. Sebelum ke toko buku, saya harus searching di internet buku yang sedang best seller apa saja, terutama buku fiksi, karena saya orangnya ga mau rugi. Dari dulu saya merasa rugi untuk beli novel dan lebih memilih membeli dan mengoleksi buku non fiksi. Ternyata sejak ditinggal Yahya, prinsip saya tentang membeli buku fiksi jadi sedikit melenceng.

Saya sering dikerjain buku-buku non fiksi itu belakangan ini. Tidak ada buku yang tidak membuat saya menangis. Dari yang ceritanya nyepet dan mirip dengan saya sampai cerita yang beda jauh, tapi pesan ceritanya seolah-olah ditujukan ke saya. Padahal saya tidak sengaja memilih dan bahkan saya ga tahu sama sekali apa isi ceritanya, hanya mempercayakan semuanya kepada dua kata: Best Seller.

Buku pertama yang saya baca persis setelah 24 Oktober 2016 adalah Tentang Kamu-nya Tere Liye. Saya seakan digetok oleh Allah dengan kehadiran tokoh Sri Ningsih yang super penyabar. Dari kecil ga pernah habis ujian hidupnya. Disiksa ibu tiri, kehilangan ayah, ibu, dan adik, dikhianati sahabat sendiri (ini keren, latar peristiwa yang diambil G30SPKI), usahanya bangkrut, dua anaknya meninggal setelah beberapa hari melahirkan, suami meninggal, dan dikejar mafia jaman G30SPKI yang adalah sahabatnya sendiri, diakhiri dengan sakit dan hidup sendiri di panti jompo. Menurut saya wajib banget baca buku ini, karena alur ceritanya lain dari yang lain.

Lalu saya baca juga buku Hujan. Bercerita tentang Lail dan Esok yang harus mengalami bencana besar. Lail kehilangan seluruh anggota keluarganya. Esok adalah teman sekaligus kakaknya setelah peristiwa itu. Saat dewasa Lail jatuh cinta pada Esok, tapi merasa perasaannya tak terbalaskan. Sakit yang dia rasakan semakin memuncak, hingga dia mendatangi pusat layanan kesehatan yang memiliki fasilitas penghapus kenangan buruk. Padahal sesungguhnya Lail hanya berprasangka dan tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya.

Ada juga novel Rindu (masih karya Tere Liye). Dengan latar belakang keberangkatan haji di masa penjajahan Belanda, Tere Liye menyajikan lima tokoh dengan permasalahan masing-masing. Empat orang dari mereka menceritakan masalah pribadinya kepada alim ulama yang ada di kapal keberangkatan haji (yang ternyata adalah orang kelima yang memiliki masalah juga). Mereka semua akhirnya mempunyai keberanian menghadapi hari dan memaafkan masa lalu, sebelum kapal sampai ke Mekkah.

Wah, kalau disebutkan banyak sih novel-novelnya, saya sengaja hanya bahas tiga buku pertama yang saya baca saja. Pada umumnya novel yang saya beli, selalu saja bisa membuat saya malu dengan tokoh dalam cerita. Mereka aja tegar, masa saya engga.

Tapi hari ini, ada satu buku yang membuat saya bersyukur karena saya lebih baik dari para tokoh yang ada dalam cerita. Kebetulan bukunya lagi hits karena filmnya sedang tayang di bioskop. Yup, Critical Eleven.

Saya ga akan cerita panjang untuk buku ini. Konfliknya adalah pertengkaran pasutri setelah meninggalnya bayi mereka bahkan sebelum dilahirkan. Pertengkaran yang dipicu oleh satu kalimat dari suami yang dianggap istrinya sebagai tuduhan yang menyalahkan.

Well, well, mirip ya? Bahkan ketemunya pasutri ini rada-rada mirip dengan saya dan suami. Sampe ke tukeran nomornya segala haha. Thats why saya jadi lebih sering banjir air mata baca novel ini. Apalagi banyak banget bagian peristiwa di novel itu yang kayanya mungkin dialami oleh orang-orang yang senasib sama saya.

Tahu apa yang saya syukuri? Seengganya saya sama suami kompak, ngga ada yang saling nyalahin. Apalagi kayanya cewek bisa banget deh jadi pihak yang tersalahkan, ga jaga kesehatan, sibuk, apalah yang bisa nganggu kehamilan. Mungkin karena kita udah pasrah banget dan mikir kalo Allah maunya begitu ya mau gimana, jadi gausah lagi ditelusuri penyebabnya apa dan siapa yang salah. Yang penting waspada aja untuk anak yang selanjutnya. Saya juga bersyukur karena komunikasi berdua tetap lancar, jadi ga ada yang namanya salah paham. Saya dan suami bahkan sering bercanda bertiga, bertiga, karena Yahya masih diajak ngobrol bareng sampai sekarang.

Yang penting lagi, saya ga pernah marah sama Allah sampai ninggalin shalat. Walopun saya dulu sempat rajin nyeletuk yang kadang bikin saya dimarahin suami karena lama-lama kayak menjudge Allah, saya sekarang sudah lebih tahu diri dan lebih memilih diam. Allah itu baik, buktinya dengan menakdirkan saya mengenal tokoh dari berbagai novel itu saya sudah senang sekali. Terutama tokoh di novel CE yang saya baca ini. Seneng banget rasanya ketemu teman senasib walau ga bisa berbagi cerita karena beda dunia. Nampak menyedihkan ya? Ya gapapa lah 😂

Wah wah, pokoknya saya jadi ga sabar menunggu buku-buku apa yang nanti Allah kenalkan ke saya untuk selanjutnya.

Dear, Yamon.

Ini lagu spesial untuk kita berdua. Tetap istimewa, walau lagi sering diplesetin orang-orang menjadi lagu ‘ubin mahal’.

Love you.

Ada tanya yang terus berputar di benak sejak Oktober 2016.

Bila kematian itu pasti, mengapa kita takut kehilangan? Mengapa dunia jadi seperti sudah kiamat bila kematian menjemput orang di sekitar kita? Mengapa kita lengah dan kadang tidak berpikir mempersiapkan kematian kita dengan baik?

Aku tidak tahu, mengapa aku ini lebih parah dari keledai. Dungu, jatuh ke lubang yang sama berkali-kali. Sudah tahu, tapi tetap terjerembab dalam hal yang sama.

Pesan ibuku macam tak ada maknanya, padahal kata-katanya jelas, “Nak, mau cari apa lagi kita di dunia ini kalau bukan ridhonya Allah. Di luar itu dunia ini ga ada apa-apanya. Jangan diingat-ingat lagi, setelah hari ini jangan nangis lagi, nanti jatuhnya ga ikhlas,” di sela-sela tangisnya saat Yahya sedang dimakamkan.

Ayuk ga mampu, Mi.

Ga mampu buat ga nangis. Ga mampu buat ga inget. Bahkan, ayuk merasa ga mampu buat nyusul Yahya ke surga.

Yang ayuk mampu hanyalah berpikir yang baik-baik dan percaya semua kehendak-Nya baik. Apa dengan itu Allah bisa ridho? Ridho walaupun masih ada sedikit cela, karena selalu menangis dan menangis?

Ah. Gila. Rasanya bila ada mesin penghapus ingatan buruk macam di novel Hujan-nya Tere Liye, aku ingin menghapus semuanya. Aku belum mampu untuk selalu mendekap takdir dengan bersahabat, meski dia telah memberi banyak pelajaran dan mengubah pandanganku tentang hidup dengan lebih baik. Aku memang tidak tahu terimakasih.

 

Saya tidak pernah memandang sebelah mata profesi ibu rumah tangga. Toh, ibu saya sendiri adalah ibu rumah tangga dan saya sangat bangga dengan ibu saya. Bagi saya, ibu rumah tangga memiliki jiwa dan raga sekuat baja. Bayangkan, pekerjaan di rumah itu tidak ada habisnya dan belum tentu juga ada yang mengapresiasi apa yang sudah mereka kerjakan di rumah. Iya, belum tentu ada, meski orang rumah sekalipun. Syukur-syukur kalau ada, pasti sangat membangun dan jadi suplemen semangat. Apalagi di rumah itu bosan, tidak peduli ada kerjaan yang banyak, tetap saja bosan.

Saya semakin kagum dan bangga dengan ibu saya setelah merasakan sendiri sebulan yang lalu jadi ibu rumah tangga. Kerjaan saya di rumah (anggap saja kosan itu rumah) hanya bersih-bersih, masak-masak, dan berburu kajian di Bandung. Wah, emosi sekali saya saat itu (padahal masih sering jalan-jalan keliling Bandung). Mati kebosanan. Sempat saya menyesali, ngapain juga saya ke Bandung kalau hanya buat nempel-nempel sama suami. Belum lagi ketidaksengajaan teman saya (mungkin ia tidak menyadari kalau mulutnya saat itu usil sekali bagi saya) yang bertanya,”Ngapain lu di Bandung kalo ga kerja Min? Balik aja sana ke Bogor,” membuat saya galau setengah mati. Kata-kata dia ada benarnya, apalagi sebelum berangkat ke Bandung, teman ayah saya menawarkan bekerja di rumah sakit yang sedang beliau kelola di Bogor.

Saya sejujurnya punya pendapat tersendiri. Untuk pasutri lain, mungkin tidak masalah untuk berpisah selagi jarak dekat dan bisa ditempuh dalam beberapa jam. Tapi, saya dan suami ini kisahnya beda dengan pasutri lain. Kami baru berpisah dengan anak kami dan kekhawatiran kami akan kehilangan satu sama lain itu lebih besar setelah kepergian Yahya, anak kami. Terutama saya pribadi, saya sering khawatir setiap suami saya pergi jauh sejak Yahya tiada. Doa yang saya haturkan lebih sering daripada dulu selama suami dalam perjalanan. Kami berdua juga tenang dan senang karena dapat berbagi cerita satu sama lain. Selain itu saya berpikir, memang apalagi yang saya cari sekarang? Apa tugas yang paling penting setelah menyandang status istri? Apakah dengan bekerja keras sampai bela-belain jauh-jauhan Bogor-Bandung? Lagipun, kami tidak punya udzur. Estimasi sekian rupiah dari tempat suami bekerja sudahlah cukup. Kalaupun saya bekerja, itu hanya supaya ilmu yang saya punya tidak lenyap. Dengan demikian, tugas terpenting yang saya jalani adalah taat pada suami dan melayani suami. Tambahan lagi, ada tugas khusus untuk saya agar memastikan apa yang dimakan suami sehat, bergizi dan tidak berlebihan. Memastikan juga aktivitas fisiknya juga meningkat, karena berat badannya sepulang dari Pameungpeuk makin mengkhawatirkan. Itu semua tidak mungkin terlaksana bila saya tidak bersamanya di Bandung.

Sebulan murni jadi ibu rumah tangga, saya benar-benar tersiksa. Dihantui kebosanan. Juga dihantui rasa iri saat mendengar cerita suami selama bekerja. Padahal saat itu saya bukan berniat jadi ibu rumah tangga, sayanya saja yang belum dapat pekerjaan yang tetap dan cocok. Saat itu saya benar-benar kesal setengah mati dengan pilihan saya ke Bandung sampai ibu saya selalu mengingatkan untuk bersabar dan meluruskan niat kalau kehadiran saya di Bandung bukan untuk bekerja, tapi untuk berbakti dengan suami, syukur-syukur bisa kerja.

Sekarang? Saya senang memiliki pekerjaan tetap. Tempat bekerja dekat dengan tempat kerja suami. Jadwal juga sama. Sesuai sekali dengan keinginan saya, agar waktu bersama suami tidak berkurang dan bisa melayani suami. Tapi hal ini selalu mengusik saya seperti saat perjalanan pulang kerja pagi ini..

Bisakah seorang dokter merelakan hidupnya hanya untuk rumah tangga saja? Menjadi ibu rumah tangga? Bukankah amat disayangkan bila ilmu yang dipunya tidak terpakai dan terendap begitu saja? Bagaimana saya nantinya bila sudah punya anak? Di sisi lain saya tidak suka membayangkan saya bekerja dan harus meninggalkan anak saya dengan orang lain. Di sisi lain saya tidak suka bila saya tidak menjumpai pasien yang merupakan guru sejati saya. Saya juga punya impian untuk sekolah lagi sampai spesialis.

Orang-orang punya kebijakan sendiri dalam menghadapi pertanyaan yang sama. Saya pernah kenal dengan guru les saya yang beristrikan dokter SpOG dan istrinya memilih tidak praktik, cukup jadi ibu rumah tangga. Saya juga mendengar cerita kakak kelas saya yang memilih merawat anaknya full time dulu sampai usia anaknya mencapai 6 bulan, baru kembali bekerja. Ada juga yang bekerja bergantian dengan suami. Ada juga yang bekerja dan memiliki baby sitter di rumah..

Dulu saat berencana menyambut Yahya bulan demi bulan, saya dengan yakin memilih mendedikasikan kehidupan saya di rumah bersama Yahya. Setelah merasakan sebulan tanpa bekerja seperti kemarin, saya tidak yakin (mungkin kalau Yahyanya balik lagi saya sedikit yakin ya?) Semua kebimbangan ini akan terjawab mungkin nanti. Di waktu yang entah kapan. Saya nikmati saja kehidupan yang sekarang, semi ibu rumah tangga. Yang jelas saya tak lupa untuk beristikharah, meski hal tersebut mungkin belum di depan mata.

Sekali lagi, saya tidak memandang sebelah mata profesi ibu rumah tangga. Namun kenyataannya, saya tidak cukup mampu untuk memilih profesi murni sebagai ibu rumah tangga. Bagi yang memilih profesi tersebut, izinkan saya angkat topi, karena anda telah melakukan keputusan yang hebat dan besar.